Dari Transaksional Beralih ke Relasional

replace-bad-habits

Sebelum paradigma relasional menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini, teori pemasaran nyaman dengan filosofi transaksional. Namun, perubahan jaman yang begitu dinamis telah menggerus secara signifikan keimanan terhadap filosofi transaksional. Kini, paradigma relasional yang menjadi primadona dalam ranah ilmu pemasaran. Bahkan, Christian Grönroos dengan percaya diri menyatakan, pemasaran relasional merupakan sebuah paradigma baru dan bukan hanya sekadar sebuah model baru. Hukum alam memastikan bahwa yang baru selalu menggusur yang lama. Cepat ataupun lambat, suka maupun tidak suka.

We have to realize that relationship marketing is a new paradigm, not just a new model. –Christian Grönroos

Namun tidak semua pakar ilmu pemasaran hanyut dengan eforia ini. Salah satunya adalah maha guru ilmu pemasaran, Philip Kotler. Kotler berargumen, pemasaran relasional bukan merupakan sebuah paradigma baru, melainkan hanya sebagai salah satu komponen dari teori pemasaran secara holistik (komponen lainnya: integrated marketing, internal marketing, dan social responsibility marketing). Sehingga, kehadiran pemasaran relasional bukan untuk meniadakan pemasaran transaksional, namun untuk melengkapi teori pemasaran.

Relationship marketing cannot be regarded as a new paradigm, but as one component of a broad and holistic marketing. –Philip Kotler

Pakar lainnya mengambil jalan tengah. Seperti dilakukan oleh Evert Gummesson yang menyatakan, pemasaran relasional akan berhasil apabila dilakukan secara benar, begitu juga sebaliknya akan gagal jika tidak efektif implementasinya. Gummesson masih melanjutkan pernyataannya, pemasaran transaksional akan menguntungkan dan sukses apabila dilakukan secara tepat, begitu pula sebaliknya akan sangat fatal jika keliru mengeksekusinya.

Relationship marketing can be extremely successful, where it is appropriate, but it can also be costly and ineffective if it is not. Conversely, transaction marketing can be profitable and successful, where it is appropriate, but a serious mistake where it is not. –Evert Gummesson

Apabila saya merujuk kepada kerangka pemikiran dari Thomas Kuhn yang memformulasikan dua syarat wajib dipenuhi oleh sebuah paradigma baru jika ingin menggantikan yang lama yaitu, (1) paradigma baru harus dapat menjawab seluruh isu dan melingkupi seluruh fakta yang ada; serta (2) paradigma baru harus dapat menyediakan metode dan alat untuk keperluan analisis. Sampai dengan saat ini, pemasaran relasional masih terus diuji dan dikaji implementasinya pada berbagai bidang atau sektor bisnis. Oleh karena itu, untuk saat ini pemasaran relasional belum dapat dinyatakan sebagai pengganti dari pemasaran transaksional. Namun begitu, bukan berarti tertutup kemungkinan pemasaran relasional dapat menjadi paradigma baru. Kemungkinan tersebut sangat terbuka lebar, hanya tinggal menunggu waktu saja.

 


coky-fauzi-alfiCOKY FAUZI ALFI

Coky Fauzi Alfi merupakan owner dari situs Relationship Marketing.
Coky sangat membuka diri untuk diajak berdiskusi tentang isu-isu dalam pemasaran relasional ataupun hanya sekadar menyapa “helo” melalui halaman About The Author.
 


Advertisements
Dari Transaksional Beralih ke Relasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s